Kamis, 03 November 2011

Pendidikan dan Perubahan Kebudayaan


Pendidikan dan Perubahan Kebudayaan

Dosen Pengampu: Bu. Yanti, M.Pd.



Disusun oleh :
1.                                                                                   Fitria Novita Sarie              (2010-33-253)
2.                                                                                Kartiko Setyo Nugroho      (2010-33-294)
3.                                                                                   Moh. Noor Kholis              (2010-33-297)

 


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2011
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya kami berhasil mengemban dan menyelesaikan tugas yang diberikan Ibu Yanti, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Sosio-Antropologi Pendidikan. Dalam makalah ini kami membahas mengenai Pendidikan dan Perubahan Kebudayaan.   
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga bantuan yang diberikan dalam penyusunan makalah ini selalu mendapat balasan yang setimpal dari Yang Maha Kuasa.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu kami mohon bagi para pembaca untuk menyampaikan masukan guna memperbaiki karya-karya selanjutnya. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Akhirnya ucapan mohon maaf dan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak  atas segala kekurangan dan bantuan yang diberikan.


                                                                          Kudus, 15 September 2011
                                                                                                                                                                                                                                                 Tim Penyusun
















Daftar Isi

Kata pengantar
Daftar isi
Bab I.  Pendahuluan
  1. Latar belakang
  2. Rumusan masalah
  3. Tujuan

Bab II. Pembahasan
  1. Pendidikan dalam Lingkup Kebudayaan
1.   Kepribadian dalam Proses Kebudayaan
2.   Penerusan Kebudayaan
3.   Pendidikan dan Proses Pembudayaan
  1. Perubahan Sosial dan Pendidikan
C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Kebudayaan Masyarakat
D.    Pendidikan sebagai Dasar PengembanganMasyarakat Baru

Bab III. Penutup
  1. Simpulan
  2. Saran

Daftar Pustaka

                    








BAB I
PENDAHULUAN
A.        LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,  pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta  keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi  pengajaran  keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat  tetapi  lebih mendalam yaitu  pemberian pengetahuan, pertimbangan dan  kebijaksanaan.
Kata kebudayaan berasal dari kata budih dalam bahasa sansekerta yang berarti akal kemudian menjadi kata budhi (tunggal) atau budhaya (majemuk) sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil pemikiran atau akal manusia. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kekbudayaan berasal dari kata budhi dan daya. Budhi adalah akal yang merupakan unsur rohani dalam kebudayaan, sedangkan daya berarti perbuatan atau ikhtiar sebagai unsure jasmani sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil dari akal dan ikhtiar manusia. Dalam bahasda inggris, kebudayaan adalah culture, berasal dari kata culere (bahasa yunani) yang berarti mengerjakan tanah.

B. RUMUSAN MASALAH
1.                  Bagaimanakah pengertian pendidikan dalam lingkup kebudayaan?
2.                  Apakah hubungan antara perubahan sosial dan pendidikan?
3.                  Apakah faktor-faktor yang menyebabkan perubahan kebudayaan masyarakat?
4.                  Bagaimanakah maksud dari pendidikan sebagai dasar pengembangan masyarakat baru?


C. TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian Pendidikan dalam lingkup kebudayaan.
2.      Untuk mengetahui hubungan antara perubahan sosial dan pendidikan.
3.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perubahan kebudayaan masyarakat.
4.      Untuk mengetahui maksud dari pendidikan sebagai dasar pengembangan masyarakat baru.

BAB II
PEMBAHASAN

A.                                              Pendidikan dalam Lingkup Kebudayaan
Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ruang lingkup kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia selama menjalin interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun non fisik. Hasil perolehan tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah. Pada akhirnya proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia. Disini kebudayaan dapat disimpulkan sebagai hasil pembelajaran manusia dengan alam. Alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang memicu akal budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupannya. Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yakni nilai-nilai. Dalam konteks kebudayaan justru pendidikan memainkan peranan sebagai agen pengajaran nilai-nilai budaya. Dari paparan terakhir dapat ditangkap bahwa pada dasarnya pendidikan yang berlangsung adalah suatu proses pembentukan kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang dimiliki.
Uraian tentang pendidikan dan kebudayaan akan diterangkan dalam urutan pembahasan dibawah ini.
1.                  Kepribadian dalam Proses Kebudayaan
Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah kepribadian-kepribadian. Di dalam perkembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan akan dapat berkembang melalui kepribadian–kepribadian tersebut.
2.                                                                  Penerusan Kebudayaan
Satu proses yang dikenal luas tentang kebudayaan adalah transmisi kebudayaan. Proses tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan itu ditransmisikan dari satu generasi kepada generasi
berikutnya. Bahkan banyak ahli pendidikan yang merumuskan proses pendidikan tidak lebih dari proses transmisi kebudayaan. Di dalam transmisi tersebut kita lihat tiga unsur utama yaitu, (1) unsur-unsur yang ditransmisi, (2) proses transmisi, dan (3) cara transmisi.
Unsur-unsur kebudayaan manakah yang ditransmisi? Pertama-tama tentunya unsur-unsur tesebut ialah nilai-nilai budaya, adat-istiadat masyarakat, pandangan mengenai hidup serta berbagai konsep hidup lainnya yang ada di dalam masyarakat. Selanjutnya berbagai kebiasaan sosial yang digunakan dalam interaksi atau pergaulan para anggota di dalam masyarakat tersebut. Selain itu, berbagai sikap serta peranan yang diperlukan di dalam dunia pergaulan dan akhirnya berbagai tingkah-laku lainnya termasuk proses fisiologi, refleks dan gerak atau reaksi-reaksi tertentu dalam penyesuaian fisik termasuk gizi dan tata-makanan untuk dapat bertahan hidup.
Proses transmisi meliputi proses-proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi. Imitasi adalah meniru tingkah laku dari sekitar. Pertama-tama tentunya imitasi di dalam lingkungan keluarga dan semakin lama semakin meluas terhadap masyarakat lokal. Yang diimitasi adalah unsur-unsur yang telah dikemukakan di atas. Transmisi unsur-unsur tidak dapat berjalan dengan sendirinya. Rangkaian transmisi berangkat dari imitasi, identifikasi, dan sosialisasi, berkaitan dengan bagaimana cara mentransimisikannya. Dalam hal ini ada dua bentuk peran-serta dan bimbingan. Cara transmisi dengan peran-serta antara lain dengan melalui perbandingan.

3.                  Pendidikan dan Proses Pembudayaan
Di dalam proses pembudayaan terdapat pengertian seperti inovasi dan penemuan, difusi kebudayaan, akulturasi, asimilasi, inovasi, fokus, krisis, dan prediksi masa depan serta banyak lagi terminology lainnya. Beberapa proses tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Penemuan atau Invensi
Dengan invensi maka umat manusia dapat menemukan hal-hal yang dapat mengubah kebudayaan. Dengan penemuan-penemuan melalui ilmu pengetahuan maka lahirlah kebudayaan industri yang telah menyebabkan suatu revolusi kebudayaan terutama di negara-negara barat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat telah membuka horizon baru di dalam kehidupan umat manusia.
b.       Difusi
Difusi kebudayaan berarti pembauran dan atau penyebaran budaya-budaya tertentu antara masyarakat yang lebih maju kepada masyarakat yang lebih tradisional. Pada dasarnya setiap masyarakat setiap jaman selalu mengalami difusi. Hanya saja proses difusi pada jaman yang lalu lebih bersifat perlahan-lahan.
c.        Akulturasi
Salah satu bentuk difusi kebudayaan ialah akulturasi. Dalam proses ini terjadi pembaruan budaya antar-kelompok atau di dalam kelompok yang besar.
d.      Asimilasi
Proses asimilasi dalam kebudayaan terjadi terutama antaretnis dengan subbudaya masing-masing. Biasanya proses asimilasi dikaitkan dengan adanya sejenis pembauran antar-etnis masih sangat terbatas dan kadang-kadang dianggap tabu. Namun dewasa ini proses asimilasi itu banyak sulit dihilangkan.

e.       Inovasi
Inovasi mengandalkan adanya pribadi yang kreatif. Dalam setiap kebudayaan terdapat pribadi-pribadi yang inovatif. Dalam masyarakat yang sederhana yang relatif masih tertutup dari pengaruh kebudayaan luar, inovasi berjalan dengan lambat. Dalam masyarakat yang terbuka kemungkinan untuk inovasi menjadi terbuka karena didorong oleh kondisi budaya yang memungkinkan. Oleh sebab itu, di dalam masyarakat modern mpribadi yang inovatif merupakan syarat mutlak bagi perkembangan kebudayaan. Inovasi merupakan dasar dari lahirnya suatu masyarakat dan budaya modern di dalam dunia yang terbuka dewasa ini.
f.        Fokus
Konsep ini menyatakan adanya kecenderungan di dalam kebudayaan ke arah kompleksitas dan variasi dalam lembaga-lembaga serta menekankan pada aspek-aspek tertentu. Artinya berbagai kebudayaan memberikan penekanan kepada suatu aspek tertentu misalnya kepada aspek teknologi, aspek kesenian seperti dalam kebudayaan Bali, aspek perdagangan, dan sebagainya. Dalam proses pembudayaan melalui fokus itu kita lihat betapa besar peranan pendidikan. Pendidikan dapat memainkan peranan penting di dalam terjadinya proses perubahan yang sangat mendasar tersebut tetapi juga yang dapat menghancurkan kebudayaan itu sendiri.
g.          Krisis
Konsep tersebut merupakan konsekuensi akibat proses akulturasi kebudayaan. Suatu contoh yang jelas timbulnya krisis di dalam proses westernisasi terhadap kehidupan budaya-budaya Timur. Sejalan dengan maraknya kolonialisme ialah masuknya unsur-unsur budaya Barat memasuki dunia ketiga. Terjadilah proses akulturasi yang kadang-kadang menyebabkan hancurnya kebudayaan lokal.
h.            Visi Masa Depan
Suatu hal yang baru dalam proses pembudayaan dewasa ini ialah peranan visi masa depan. Terutama dalam dunia global tanpa-batas dewasa ini diperlukan suatu visi ke arah mana masyarakat
dan bangsa kita akan menuju. Tanpa visi yang jelas yaitu visi yang berdasarkan nilai-nilai yang hidup di dalam kebudayaan bangsa (Indonesia), akan sulit untuk menentukan arah perkembangan masyarakat dan bangsa kita ke masa depan, atau pilihan lain ialah tinggal mengadopsi saja apa yang disebut budaya global.



B.                 Perubahan Sosial dan Pendidikan
Sejalan dengan penjelasan perubahan sosial di atas maka sebenarnya di manakah letak posisi pendidikan. Dalam hal ini kita mengingat penuturan Eisentandt dalam Faisal dan Yasik (1985) institusionalisasi merupakan proses penting untuk membantu berlangsungnya transformasi potensi-potensi umum perubahan sehingga menjadi kenyataan sejarah. Pendidikan adalah suatu institusi pengkonservasian yang berupaya menjembatani dan memelihara warisan budaya suatu masyarakat. Melihat perkembangan masyarakat yang sering dilanda perubahan secara tiba-tiba, maka kemungkinan terjadinya dampak negatif yang akan menggejala ke dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dihindari kehadirannya.
Gejala ketimpangan budaya atau cultural lag, harus dapat diminimalisasi pengaruhnya ke dalam tatanan kehidupan masyarakat. Untuk itu sebagai lembaga yang berfungsi menjaga dan mengarahkan perjalanan masyarakat, pendidikan harus dapat menangkap potensi kebutuhan masyarakat. Dalam proses perubahan sosial modifikasi yang terjadi seringkali tidak teratur dan tidak menyeluruh, meskipun sendi-sendi yang berubah itu saling berkaitan secara erat, sehingga melahirkan ketimpangan kebudayaan. Dikatakan pula olehnya bahwa cepatnya perubahan teknologi jelas akan membawa dampak luas ke seluruh institusi-institusi masyarakat sehingga munculnya kemiskinan, kejahatan, kriminalitas dan lain sebagainya merupakan dampak negatif yang tidak bisa dicegah. Untuk itulah pendidikan harus mampu melakukan analisis kebutuhan nilai, pengetahuan dan teknologi yang paling mendesak dapat mengantisipasi kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan.

C.                 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Kebudayaan Masyarakat
a.                               Kekuatan Demokratisasi
Saat ini gelombang demokratisasi sedang melanda dunia. Semenjak beberapa waktu lalu dimana-mana telah terjadi penghancuran dinasti pemerintah otoriter oleh rakyat beriringan dengan tumbuhnya pemerintah yang demokratis. Meskipun bukannya tanpa hambatan namun dewasa ini menurut Huntington (1995) gelombang demokratisasi telah mencapai tahap ketiga. Menurut pengamatannya gelombang demokratisasi yang pertama berakar dari revolusi Perancis dan revolusi Amerika yang memperjuangkan hak-hak rakyat untuk mengatur dirinya sendiri. Gelombang kedua terutama terjadi setelah perang dunia kedua dengan lahirnya nagara-negara baru di Afrika dan Asia dari daerah-daerah bekas penjajahan. Gelombang ketiga ditandai oleh pemerintah diktator di Eropa Selatan seperti Portugal telah terjadi penumbangan pemerintahan diktator pada tahun 1974, diikuti oleh pendemokrasian negara-negara Eropa Selatan lainnya seperti Yunani dan Spanyol. Sejak tahun 1980 proses demokratisasi mulai menelan dunia komunis seperti Polandia. Rontoknya negaranegara
komunis pada penghujung tahun 80-an ditandai oleh rontoknya tembok Berlin yang memisahkan Berlin Barat yang demokratis dan Berlin Timur yang komunis. Rontoknya pemerintahan diktator komunis mencapai klimaksnya dengan bubarnya negara Uni Sovyet. Sampai permulaan abad 21 ini proses demokratisasi terus berlangsung. Sampai di sini kita lihat pengertian demokrasi berhubungan
dengan sistem pemerintahan, yaitu pemerintah oleh rakyat melalui para wakilnya di dalam suatu dewan atau majelis. Demokrasi itu sendiri bukan merupakan suatu nama benda tetapi lebih merupakan suatu proses yaitu proses demokratisasi.

b.                  Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Bagaimanakah dengan keadaan kehidupan masyarakat dan negara dewasa ini? Ternyata sumber kemakmuran dan kekuatan bukan lagi terletak pada luas wilayah dan sumber daya alamnya yang melimpah tetapi telah berpindah pada penguasaan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah peradaban baru umat manusia. Terdapat tiga kekuatan yang dominan yaitu:
(1)               ilmu pengetahuan,
(2)               teknologi sebagai penerapan ilmu pengetahuan,
(3)               informasi.
Ketiga kekuatan ini tidak berhubungan lagi secara langsung dengan nasionalitas. Ilmu pengetahuan tidak perlu menyebarangi tapal batas suatu Negara dan oleh sebab itu tidak lagi memerlukan paspor dan visa. Demikian pula informasi berembus ke mana-mana tanpa batas dan tidak ada yang dapat menghentikan atau menghambatnya.

c.                                Globalisasi
Globalisasi adalah proses kebudayaan yang ditandai dengan adanya kecenderungan wilayah-wilayah di dunia, baik geografis maupun fisik, menjadi seragam dalam format sosial, budaya, ekonomi dan politik. Dalam kehidupan sosial proses global telah menciptakan egalitarianisme. Di bidang budaya memicu munculnya internalisasi kultural, di bidang ekonomi menciptakan saling ketergantungan dalam proses produksi dan pemasaran, dan di bidang politik menciptakan liberalisasi. Hal-hal nyata yang terlihat dalam era global adalah meningkatnya integrasi ekonomi antar negara-negara di dunia, baik antarnegara maju, berkembang, dan keduanya. Globalisasi dengan demikian diwarnai oleh ekspansi pasar dalam bentuk konkret menjelma dalam berbagai penyelenggaraan pasar-pasar bersama regional seperti AFTA, NAFTA, APEC, EEC, dll. Ini merupakan ekspansi hubungan dagang serta formasi wilayah pasar terpadu di benua-benua Asia, Eropa, Amerika, Australia, dll. Proses per85 luasan pasar di seluruh wilayah penjuru dunia tersebut merupakan sebuah rekayasa sosial dengan skala luas, yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dengan menggunakan berbagai instrument seperti ilmu pengetahuan, teknologi, institusi sosial, politik dan kebudayaan.

D.                Pendidikan sebagai Dasar PengembanganMasyarakat Baru
Pendidikan telah dijadikan prioritas utama dan pertama dari banyak negara untuk dijadikan sebagai pondasi membangun masyarakat yang lebih demokratis, terbuka bagi perubahan-perubahan global dan menghadapi masyarakat digital.
 a. Arah Baru Pedagogik
Dalam perkembangannya, pedagogik terbatas kepada masalah-masalah mikro pendidikan, seperti perkembangan anak, proses belajar dan pembelajaran, fasilitas pendidikan, biaya pendidikan, manajemen pendidikan dan sebagainya. Di dalam perkembangannya dewasa ini, pedagogik ternyata tidak terlepas dari perubahan-perubahan sosial, politik dan ekonomi. Pedagogik bukan sekadar mencermati perkembangan anak sejak lahir sampai dewasa, atau mengenai proses pendidikan orang dewasa, atau menyimak mengenai proses belajar dan pembelajaran, tetapi lebih luas daripada itu, yaitu menempatkan perkembangan dan kehidupan manusia di dalam tetanan kehidupan global. Dengan demikian, pedagogik bukan hanya terbatas kepada ilmu mendidik dalam arti sempit, atau sekadar aplikasi ilmu jiwa pendidikan, tetapi juga membahas mengenai keberadaan manusia di dalam kebersamaan hidup yang mengglobal bagi umat manusia.
.
b. Pendidikan, Ekonomi, Politik, dan Kebudayaan
Pedagogik orientasi baru tersebut di atas, menunjukkan keterkaitan yang erat antara pedagogik dengan pertumbuhan ekonomi serta pertumbuhan politik. Demikian selanjutnya, pedagogik tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan di mana pendidikan itu merupakan bagian dari padanya. Kebudayaan merupakan sarana, bahkan jiwa dari kohesi sosial dari suatu masyarakat. Tanpa kohesi sosial tidak mungkin lahirnya proses pendidikan. Demikianlah kita melihat bagaimana peranan pendidikan di dalam menata suatu masyarakat baru. Masyarakat baru yang
berdasarkan paradigma baru, akan dapat dipersiapkan melalui proses pendidikan.







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Pendidikan berperan penting dalam perubahan kebudayaan. Pendidikan sekaligus adalah sebuah  subsistem bagi kebudayaan dan sistem tersendiri yang berada di luarnya, yang menunjang pembentukan, pengembangan, dan pelestarian kebudayaan. Sebagai sebuah subsistem, pendidikan adalah bagian terpenting dari kebudayaan, berfungsi sebagai pengarah kebudayaan dan sekaligus mekanisme pewarisan nilai-nilai budaya sesuatu masyarakat dari satu ke lain generasi. Sebaliknya, sebagai sebuah sistem tersendiri ia ditunjang oleh kebudayaan untuk membantu perkembangan hidup manusia, baik  perorangan  maupun  kelompok.
2.      Pendidikan dan Proses Pembudayaan meliputi Penemuan atau Invensi, Difusi, Akulturasi, Asimilasi, Inovasi, Fokus, Krisis, Visi Masa Depan.
3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Kebudayaan Masyarakat ada dua, yaitu: Kekuatan Demokratisasi, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Globalisasi.
4.      Pendidikan sebagai Dasar PengembanganMasyarakat Baru  dapat dilihat melalui . Arah Baru Pedagogik Pendidikan, Ekonomi, Politik, dan Kebudayaan.

B.        Saran
1.      Gejala ketimpangan budaya atau cultural lag, harus dapat diminimalisasi pengaruhnya ke dalam tatanan kehidupan masyarakat. Untuk itu sebagai lembaga yang berfungsi menjaga dan mengarahkan perjalanan masyarakat, pendidikan harus dapat menangkap potensi kebutuhan masyarakat.
2.      Terjadinya perubahan-perubahan kebudayaan dalam masyarakat harus kita imbangi dengan pendidikan, sehingga masyarakat menjadi lebih baik dari sebelumnya dari perubahan-perubahan tersebut.






DAFTAR PUSTAKA

Kamanto Sunarto. Pengantar Sosiologi. Sebuah Bunga Rampai: Jakarta Obor Indonesia, 1985.
Koentjaraningrat (ed). Masyarakat Desa di Indonesia Masa Ini. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1964.
Koentjaraningrat. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan, 1971.
Soerjono Soekanto. Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983.
http://staff.undip.ac.id/sastra/dhanang/2009/07/23/peningkatan-kualitas-pembelajaran-sejarah
http://arsaundagy.wordpress.com/2011/03/28/pengaruh-pendidikan-terhadap-perubahan-kebudayaan/

Daftar Nama Lagu Daerah Musik Tradisional Khas Budaya Nasional - Kebudayaan Nusantara Indonesia


Daftar Nama Lagu Daerah Musik Tradisional Khas Budaya Nasional - Kebudayaan Nusantara Indonesia

Lagu Ampar-Ampar Pisang berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Selatan
Lagu Anak Kambing Saya berasal dari daerah / provinsi NTT
Lagu Angin Mamiri berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Selatan
Lagu Anju Ahu berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Apuse berasal dari daerah / provinsi Papua
Lagu Ayam Den Lapeh berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Barek Solok berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Batanghari berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Bolelebo berasal dari daerah / provinsi Nusa Tenggara Barat
Lagu Bubuy Bulan berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Bungong Jeumpa berasal dari daerah / provinsi NAD
Lagu Burung Tantina berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Butet berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Cik-Cik Periuk berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Barat
Lagu Cing Cangkeling berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Dago Inang Sarge berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Dayung Palinggam berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Dek Sangke berasal dari daerah / provinsi Sumatra Selatan
Lagu Desaku berasal dari daerah / provinsi NTT
Lagu Esa Mokan berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Gambang Suling berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Gek Kepriye berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Goro-Gorone berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Gundul Pacul berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Haleleu Ala De Teang berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Fluhatee berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu llir-llir berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Indung-Indung berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Timur
Lagu Injit-Injit Semut berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Jali-Jali berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Jamuran berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Kabile-bile berasal dari daerah / provinsi Sumatra Selatan
Lagu Kalayar berasal dari daerah / provinsi Kalimatan Tengah
Lagu Kambanglah Bungo berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Kampung nan Jauh Di Mato berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Ka Parak Tingga berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Keraban Sape berasal dari daerah / provinsi Jawa Timur
Lagu Keroncong Kemayoran berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Kicir-Kicir berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Kole-Kole berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Lalan Belek berasal dari daerah / provinsi Bengkulu
Lagu Lembah Alas berasal dari daerah / provinsi NAD
Lagu Lipang Lipangdang berasal dari daerah / provinsi Lampung
Lagu Lisoi berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Macep-cepetan berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Madedek Magambiri berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Malam Baiko berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Mande-Mande berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Manuk Dadali berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Ma Rencong berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Selatan
Lagu Mejangeran berasal dari daerah / provinsi Baii
Lagu Meriam Tomong berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Meyong-Meyong berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Moree berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Na Sonang Dohita Nadua berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Ngusak Asik berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Nuluya berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Tengah
Lagu 0 Ina Ni Keke berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Ole Sioh berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu 0 Re Re berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Orlen-Orlen berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu 0 Ulate berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Pai Mura Rame berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Pakarena berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Selatan
Lagu Palu Lempong Pupoi berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Tengah
Lagu Panon Hideung berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Paris Barantai berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Selatan
Lagu Peia Tawa-Tawa berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Tenggara
Lagu Pileuleuyan berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Pinang Muda berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Pitik Tukung berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Potong Bebek berasal dari daerah / provinsi NTT
Lagu Putri Ayu berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Rambadia berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Rang Talu berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Rasa Sayang-Sayange berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Ratu Anom berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Saputanga Bapuncu Ampat berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Selatan
Lagu Sarinande berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Selendang Mayang berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Sengko-Sengko berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Sepakat Segenap berasal dari daerah / provinsi DI Aceh
Lagu Sinanggar Tulo berasal dari daerah / provinsi Sumatera Utara
Lagu Sing Sing So berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Sinom berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Sipatokahan berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Sitara Tillo berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Soleram berasal dari daerah / provinsi Riau
Lagu Surilang berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Suwe Ora Jamu berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Tahanusangkara berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Tanduk Majeng berasal dari daerah / provinsi Jawa Timur
Lagu Tanase berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Tari Tanggai berasal dari daerah / provinsi Sumatra Selatan
Lagu Tebe O Nana berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Tekate Dipanah berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Tokecang berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Tondok Kadindangku berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Tengah
Lagu Tope Gugu berasal dari daerah / provinsi SulawesiTengah
Lagu Tumpi Wayu berasal dari daerah / provinsi KalimantanTengah
Lagu Tutu Koda berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Yamko Rambe Yamko berasal dari daerah / provinsi Papua


WIB=1                                          WITA=2                  WIT=3

RANGKUMAN
Di Indonesia ada banyak sekali peninggalan sejarah. Di antaranya
ada yang berasal dari masa kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam. Kita
harus menjaga dan merawat peninggalan-peninggalan sejarah tersebut.
Contoh kerajaan Hindu adalah Kutai, Tarumanegara, Kediri, Singosari,
dan Majapahit. Peninggalan sejarah dari zaman Hindu ini antara
lain berupa candi, prasasti, patung, kitab, dan tradisi-tradisi. Beberapa
peninggalan Hindu yang terkenal antara lain Candi Prambanan, Candi
Singasari, Prasasti Kutai, Prasasti Ciaruteun, Patung Airlangga, Patung
Ken Dedes, Patung Kertarajasa, Kitab Baratayuda, dan Kitab Arjunawiwaha.
Agama Buddha mencapai kejayaan pada masa kerajaan Sriwijaya.
Peninggalan sejarah Buddha antara lain Candi Borobudur, Candi Sewu,
Candi Mendut, Patung Buddha di Sikendeng, Arca Dhyana Mudra, dan
Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular.
Peninggalan sejarah Islam berupa masjid, kaligrafi, istana, kitab,
dan tradisi-tradisi. Peninggalan-peninggalan yang terkenal antara lain
masjid Demak, Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Kudus, kaligrafi di
makam Fatima binti Maimun, Istana Kesultanan Aceh, Keraton
Kasultanan Yogyakarta, dan Kiatab Bustan Al-Salatin. Kerajaan-kerajaan
Islam yang pernah berdiri di Indonesia antara lain Samudera Pasai,
Aceh, Banten, Demak, Mataram, Gowa-Tallo, dan Ternate-Tidore.
Ada banyak tokoh di balik perkembangan agama Hindu, Buddha,
dan Islam di wilayah tanah air. Tokoh itu bisa seorang raja, penyebar
ataupun tokoh agama seperti pendeta, brahmana, dan mubalig.
Selain para pedagang India, kaum Brahmana turut menyebarkan
agama Hindu di Indonesia. Tokoh-tokoh besar pada masa kerajaan
Hindu antara lain Aswawarman, Mulawarman, Purnawarman, Airlanga,
Jayabaya, Ken Arok, Raden Wijaya, Gajah Mada, dan Hayam Wuruk.
Kita bisa tahu banyak tentang sejarah agama Buddha di Indonesia
dari catatan I-Tsing. Salah satu tokoh yang diceritakan adalah Sakyakirti.
Beliau adalah mahaguru agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya. Tokoh
lain yang bisa disebutkan adalah Balaputradewa dan Kertanegara.
Agama Islam mulai masuk ke Indonesia dari wilayah barat, yaitu
Sumatera Utara. Tokoh-tokoh penyebaran Islam di wilayah Sumatera
antara lain Sultan Malik Al-Saleh, Sultan Ahmad, Sultan Alauddin Riyat
Syah, dan Sultan Iskandar Muda. Di Pulau Jawa ada sembilan tokoh
penyebaran agama Islam. Mereka dikenal dengan sebutan Wali Songo.
Tokoh-tokoh penyebaran Islam di wilayah tengah dan timur Indonesia
(Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku) antara lain Dato’ri Bandang, Sultan
Alauddin, Tuan Tunggang Parangan, dan Sultan Zainal Abiddin.